Pages

Tampilkan postingan dengan label Pemupukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemupukan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2015

Cara Pemupukan Padi yang Benar


Seperti kita ketahui padi mempunyai habitat dengan banyak air, oleh karena itu yang harus dilakukan adalah dalam pemupukannya harus berimbang dan sedikit-sedikit. Kebanyakan petani didaerah saya melakukan pemupukan padi hanya sekali atau 2 kali dengan dosis tinggi diawal tanam, akibatnya diantaranya:

·         Padi mudah terserang penyakit, karena kelebihan urea atau nitrogen.
·         Ketika berbunga dan menghasilkan gabah, kurang optimal karena pupuk sudah tidak tersedia lagi terbawa air, apalagi musim hujan.
·         Sering terserang tikus, karena lebih disuaki.
·         Dan sederet kerugian lainnya.

Oleh karena itu kita harus mengetahui cara pemupukan yang tepat, kita istilahkan saja dengan 5KP, kita mulai dengan lahan 1000 m2 yakni:

1.      Pertama-tama tentunya POC utk merendam benih dan bibit.
2.      Pemupukan pertama ketika usia 7 hari setelah tanam (7 HST), Urea 5kg, Phonska 5kg, Petroganik 20kg.
3.      Pemupukan kedua 21-HST, Urea 10kg, Phonska 10kg, Petroganik 40kg.
4.      pemuppukan ketiga 35-HST, Urea 10kg, phonska 10kg, petroganik 40kg, Jadi setiap 2 minggu sekali intinya.
5.      Pada pemupukan ke 1-3 selalu disusul dengan pengocoran Bakteri pelarut P dan bakteri Nitrifikasi, Agens Hayati dan hormon Auksin dan Sitokinin.
6.      Sedangkan pemupukan ke 4&5 hanya memakai Phonska dan Petroganik sebanyak 10kg dan 40kg. ditambah POC plus bakteri pelarut P&K, Hormon Sitokinin, Giberelin.
Pemupukan ke 4 dan 5 memang tanpa Urea krn sumber unsur N sudah ada dalam Phonska dan Petroganik. Pemakaian Pupuk Petroganik adalah wajib meskipun bisa digantikan dengan kompos sebanyak minimal 2x kebutuhan Petroganik. Dengan menerapkan pola pemupukan ini dan didukung pola tanam jajar legowo 2:1 maka produksi bisa naik minimal 50%.  jika lahan telah diberi pupuk dasar kompos 1ton/1000m2 dan kapur pertanian 100kg/1000m2 maka pemakaian phonska dan petroganik bisa dikurangi. Pemakaian bakteri penambat P&K wajib sebanyak 20ml/m2/aplikasi dikocorkan bersamaan air masuk setiap kali habis pemupukan kimia.

Catatan: Sebenarnya utk dosis pupuk bisa disesuaikan dgn kebutuhan spesifik di masing2 lahan, gunakan bagan warna daun, atau secukupnya sambil dilihat warna daunnya tdk hijau tua sedangkan penambahan pupuk organik/petroganik/kompos sebaiknya itu adalah jumlah minimal, bisa dinaikkan 2x lipat.

Jumat, 05 Juni 2015

Pupuk dan Pengairan

PemupukanSalah satu kunci utama keberhasilan peningkatan produktivitas jagung adalah pengaplikasian pupuk berimbang ke dalam tanah, dengan memperhatikan kadar unsur hara tanah, jenis pupuk yang sesuai dan kondisi lingkungan fisik di areal penanaman. Aplikasi pemupukan ke dalam tanah perlu mempertimbangkan jenis pupuk serta dosis/takaran pada jenis tanah dan lingkungan tertentu.


Ketersediaan unsur N di dalam tanah dalam jumlah yang beraneka ragam. Lahan pertanian umumnya mengandung unsur N dalam jumlah yang tidak mencukupi, terkecuali pada tanah baru hasil pembukaan lahan vegetasi hutan. Pada lahan latosol, podsolik, vulkanik dan mediteran, pemberian pupuk Urea dengan dosis 200 - 400 kg/ha memberikan efisinsi pemupukan (setiap kg hasil panen diperoleh dari setiap kg pupuk urea yang diberikan) 6.0–7.5. Berbeda dengan pupuk N, pemberian pupuk K perlu diperhatikan karena tidak semua tanah memerlukan tambahan pupuk P. Tanah vulkanis di lahan kering, tanaman jagung kurang tanggap terhadap pemupukan P. Berbeda halnya pada tanah berkapur, pemberian pupuk P dosis 100–200 kg/ha menunjukkan efisiensi pemupukan yang cukup baik. Pengaruh yang cukup signifikan terlihat jelas pada tanah Podsolik dimana ketersediaan P merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman, dikarenakan kandungannya yang sangat rendah dan unsur P sangat kuat terikat di dalam tanah ini sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Sama seperti pupuk P, pengaplikasin pupuk K ke dalam tanah perlu diperhatikan karena pemupukan K umumnya kurang memberikan tanggapan.

Dosis pemupukan untuk budidaya tanaman jagung yang umumnya dianjurkan yaitu pupuk Urea 450 kg/ha; pupuk SP-36 100 kg/ha; dan KCl 100 kg/ha. Pupuk Urea diaplikasikan sebanyak 3 kali masing-masing 150 kg/ha yaitu pada saat tanam, 3 Minggu Setelah Tanam (MST) dan 6 MST. Sementara itu, pupuk SP-36 dan KCl diberikan ke dalam tanah saat tanam. Alternatif lain dosis pemupukan untuk jagung, apabila menggunakan pupuk majemuk yaitu pemberian pupuk NPK Phonska (15-15-15) 400 kg/ha dan Urea 200 kg/ha. Pupuk NPK Phonska diaplikasikan 2 kali yaitu saat tanam (250 kg) dan saat 3 MST (150 kg). Sama halnya dengan NPK Phonska, pupuk Urea juga diaplikasikan 2X yaitu 100 kg saat tanaman berumur 3 MST dan 100 kg saat 6 MST. Pemberian pupuk ke dalam tanah dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak 7-10 cm di samping lubang tanaman dan ditutup dengan tanah. Selain pupuk anorganik, pupuk organik (pupuk kandang/kompos) perlu diberikan ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Dosis yang diperlukan yaitu sekitar 5 ton/ha dan diberikan saat tanam sebagai penutup lubang tanam.

Efisiensi pemupukan, jenis dan dosis pupuk yang diaplikasikan sebaiknya didasarkan pada hasil analisis/uji tanah (Soil Testing). Akan tetapi pendekatan tersebut dihadapkan pada keterbatasan areal yang tanahnya telah dianalisis, adanya perubahan status hara tanah seiring dengan lamanya pemanfaatan dan pengelolaan hara serta sulitnya petani mengakses fasilitas uji/analisis tanah tersebut karena masih kurangnya perangkat uji tanah (Soil Test Kit) yang beredar di kalangan kelompok petani dan belum intensifnya penyuluhan pertanian terkait analisis tanah dari petugas penyuluh lapang Dinas Pertanian di daerah-daerah.

Pengairan
Lahan sawah dengan irigasi yang terbatas atau sawah tadah hujan yang dilengkapi sumur dangkal sebaiknya ditanami jagung pada musim kemarau atau setelah padi (corn after rice). Pengairan pada musim kemarau bersumber dari air irigasi maupun air tanah yang dipompa dan para petani umumnya membuat saluran air di antara barisan tanaman dengan menggunakan cangkul.Pengairan untuk budidaya jagung di musim kemarau perlu memperhitungkan efisiensi penggunaan air dan tenaga kerja (biaya). Lahan irigasi dengan sumber air terbatas dan lahan sawah tadah hujan pada musim kemarau memerlukan 4 kali pengairan selama masa pertumbuhan dan perkembangan jagung. Pengairan dilakukan saat tanaman berumur 15, 30, 45 dan 60 Hari Setelah Tanam (HST).
Tanaman jagung membutuhkan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan produksi yang optimal. Air sangat diperlukan terutama saat penanaman (0 HST), pembungaan (45-55 HST) dan saat pengisian biji (60-80 HST).
Drainase atau sistem pembuangan air juga sangat penting untuk petumbuhan tanaman jagung yang optimal. Hindari tanaman dari kondisi tanah yang tergenangi air karena kondisi ini akan menjadikan tanaman layu dan mati.

http://www.pioneer.com/web/site/indonesia/menuitem.2274d8dde103500a2a112a11310093a0/

Pengertian pemupukan

Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun.
Pemberian bahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki suasana tanah, baik fisik, kimia atau biologis disebut pembenahan tanah (amandement) yang berarti perbaikan (reparation) atau penggantian (restitution). Bahan-bahan tersebut termasuk mulsa (pengawet lengas tanah, penyangga temperatur), pembenah tanah (soil conditioner, untuk memperbaiki struktur tanah), kapur pertanian (untuk menaikkan pH tanah yang terlalu rendah, atau untuk mengatasi keracunan Al dan Fe), tepung belerang (untuk menurunkan pH tanah yang semula tinggi) dan gipsum (untuk menurunkan kegaraman tanah). Rabuk kandang dan hijauan legum diberikan ke dalam tanah dengan maksud sebagai pupuk maupun pembenah tanah.

Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap berfungsi secara lestari.

Tujuan utama pemupukan adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga diperoleh peningkatan hasil panen. Penggunaan pupuk yang efisien pada dasarnya adalah memberikan pupuk bentuk dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut. Tanaman dapat menggunakan pupuk hanya pada perakaran aktif, tetapi sukar menyerap hara dari lapisan tanah yang kering atau mampat. Efisiensi pemupukan dapat ditaksir berdasarkan kenaikan bobot kering atau serapan hara terhadap satuan hara yang ditambahkan dalam pupuk tersebut.
Faktor yang berpengaruh terhadap pemupukan:
  1. Tanah: kondisi fisik (kelerengan, jeluk mempan perakaran, retensi lengas dan aerasi), kondisi kimiawi (retensi hara tersedia, reaksi tanah, bahan organik tanah, sematan hara, status dan imbangan hara), kondisi biologis (pathogen, gulma).
  2. Tanaman: jenis, umur dan hasil panen yang diharapkan.
  3. Pupuk: sifat, mutu, ketersediaan dan  harga.
  4. Iklim: temperatur, curah hujan, panjang penyinaran dan angin.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengertian_pemupukan

Rabu, 27 Mei 2015

NPK Majemuk Membuat Kakao Lebih Tinggi

Dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman kakao selain faktor  lingkungan tanaman kakao juga memerlukan pemupukan. Pemupukan bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah, sehingga kakao dapat tumbuh lebih cepat, subur dan sehat. Pemupukan dapat menambah unsur hara yang kurang tersedia di dalam tanah dalam jumlah yang cukup seperti nitrogen, posfor dan kalium. Roesmarkam dan Yuwono (2002) menyatakan bahwa pemupukan dimaksudkan untuk mengganti kehilangan unsur hara pada media atau tanah dan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Upaya pemberian pupuk organik dilakukan untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bibit kakao.
Selain penggunaan kompos, penggunaan pupuk majemuk juga sangat baik dilakukan. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur pupuk (N, P, dan K). Untuk mengurangi biaya pemupukan, sering digunakan pupuk majemuk sebagai alternatif dari pemakaian pupuk tunggal. Penggunaan pupuk ini selain memberikan keuntungan dalam arti mengurangi biaya penaburan, dan biaya penyimpanan, juga penyebaran unsur hara lebih merata (Hasibuan, 2006).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yudika Marajahan M, Islan, dan M. Amrul Khoiri dari Jurusan Agroteknologi,  Fakultas Pertanian, Universitas Riau membuktikan hasil positif aplikasi pupuk NPK majemuk pada tanaman kakao.  Aplikasi pupuk NPK dilakukan 7 hari setelah penanaman bibit dengan dosis sesuai dengan perlakuan masing-masing. Aplikasi dilakukan dengan cara menanam pupuk dengan jarak 25 cm dari kakao. Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit
Hasilnya memperlihatkan bahwa tinggi tanaman tertinggi adalah dengan pemberian pupuk NPK 30 g/tanaman (7,50 cm) sedangkan tinggi  tanaman terendah adalah tanpa pemberian pupuk NPK (3,17 cm). Pemberian  pupuk NPK 30 g/tanaman (7,50 cm) berbeda nyata dengan pemberian pupuk NPK 40 g/tanaman (4,67 cm), pemberian pupuk NPK 20 g/tanaman (3,65 cm),  pemberian pupuk NPK 10 g/tanaman (3,50 cm) dan tanpa pemberian pupuk NPK  (3,17 cm). Pemberian pupuk NPK 30 g/tanaman (7,50 cm) menunjukkan tinggi  tanaman yang terbaik, hal ini diduga karena pemberian NPK 30 g/tanaman mampu memenuhi keadaan optimum kebutuhan unsur hara. Masing-masing unsur  NPK yang diberikan merangsang proses fisiologi untuk pertambahan tinggi tanaman.  (repository.unri.ac.id)

Apa itu Pupuk Hayati?

Pupuk mikrobiologis atau biofertilizer atau biasa disebut sebagai pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme hidup yang ketika diterapkan pada benih, permukaan tanaman, atau tanah, akan mendiami rizosfer atau bagian dalam dari tanaman dan mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan pasokan nutrisi utama dari tanaman.  Pupuk mikrobiologis mirip dengan kompos teh, dan bisa dikatakan sebagai kompos teh yang direkayasa karena hanya mikroorganisme tertentu yang bermanfaat bagi tanah yang digunakan.
Pupuk mikrobiologis bukanlah pupuk biasa yang secara langsung meningkatkan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi ke dalam tanah. Pupuk mikrobiologis menambahkan nutrisi melalui proses alami, yaitu fiksasi nitrogen atmosfer, menjadikanfosfor bahan yang terlarut, dan merangsang pertumbuhan tanaman melalui sintesis zat-zat yang mendukung pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme dalam pupuk mikrobiologis mengembalikan siklus nutrisi alami tanah dan membentuk material organik tanah. Melalui penggunaan pupuk mikrobiologis, tanaman yang sehat dapat ditumbuhkan sambil meningkatkan keberlanjutan dan kesehatan tanah.
Pupuk hayati merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan pupuk hayati tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi kesehatan manusia. Selain itu, penggunaan pupuk hayati diharapkan dapat meningkatkan kesehatan tanah, memacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi tanaman. Salah satu contoh pupuk organik (pupuk hayati) yatu pupuk Kompos. Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik sebagai hasil dekomposisi limbah ternak berupa kotoran yang bercampur dengan sisa-sisa hijauan dan serasah daun.
Aplikasi pupuk yang mengandung mikoriza dan bakteri pengikat N (Azotobacter choococum), bakteri pelarut P (Bacillus megaterium) dan bakteri pelarut K (Bacillus mucilaginous) terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays). (Wikipedia.org)

Komposisi Pemupukan Tepat Produksi Meningkat

PT Petrokimia Gresik bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo mencanangkan program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) di Desa Keponggok,  Kecamatan Purwodadi, belum lama ini. Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman mengawali program itu dengan melakukan penanaman padi perdana pada lahan seluas kurang lebih 97 hektar. “Untuk Kabupaten Purworejo targetnya 5.000 hektar sepanjang musim tanam tahun 2014,” ucap Hidayat Nyakman. Namun program tersebut baru terealisasi seluas kurang lebih 2.672hektar. Pihak PT Petrokimia Gresik didampingi pihak pemerintah daerah akan terus memperluas kawasan tanam GP3K untuk memenuhi target itu.
Hidayat Nyakman menjelaskan, penanaman perdana yang dilakukannya menandai dimulainya kegiatan GP3K di Purworejo. Melalui program ini diharapkan hasil pertanian di Purworejo bisa meningkat dari segi produktivitas. “Dalam program ini kami memberikan bimbingan kepada petani mengenai bagaimana bercocok tanam yang produktif dan meningkatkan hasil pertanian. Satu segi yang kami lakukan adalah melalui cara pemupukan yang benar menggunakan kombinasi pupuk organik dan kimia,” katanya.
Hidayat memaparkan, pihaknya telah menemukan rumusan pupuk yang tepat untuk memicu peningkatan produktivitas lahan. Rumusan tersebut berupa pemakaian 500 kilogram pupuk Petroganik, 300 kilogram pupuk NPK PHONSKA, dan 200 kilogram pupuk Urea untuk setiap hektar lahan. “Melalui komposisi yang tepat produktivitas lahan bisa meningkat sekitar 1 ton per hektar. Kami berani menjamin itu. Apabila menggunakan komposisi tersebut dan hasilnya kurang, kami akan mengganti kekurangannya,” katanya. Ditambahkannya, pemupukan berimbang akan terus disosialisasikan pada para petani karena telah terbukti meningkatkan produksi. (KRjogja.com)

Jumat, 22 Mei 2015

Pupuk dan Pupuk Majemuk

Pupuk dan Pupuk Majemuk
  • Pupuk adalah unsur hara esensial tanaman yang sengaja diberikan untuk mencukupi kebutuhan pertumbuhan tanaman.  Pupuk dapat diberikan melalui tanah atau daun tanaman.
  • Pupuk tunggal (single/straight fertilizer) adalah pupuk yang hanya mengandung satu macam unsure hara, misalnya Urea hanya mengandung N, SP-36 hanya mengadung P, dan ZK hanya mengandung K.
  • Pupuk majemuk (compound fertilizer) adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu macam unsur hara, misalnya DAP mengandung unsure N dan P, sedangkan NPK mengandung N, P, dan K.
  • Formula NPK majemuk harus disesuaikan dengan kebutuhan hara tanaman dan status hara tanah, oleh karena itu seyogyanya dibuat secara bulk blending.  Apabila NPK majemuk dibuat dengan formula fixed, maka tidak mudah diaplikasikan secara umum karena pada sebagian tempat atau wilayah  jumlah unsur pupuk (misal P dan K) yang diberikan berlebihan sehingga akan merugikan petani dan mencemari lingkungan.  Sebaliknya di wilayah lain, akan kekurangan satu atau dua unsur.
  • Ditinjau dari segi distribusi, penyimpanan dan aplikasi, pupuk majemuk NPK lebih efisien dari pada pupuk tunggal. Kecuali itu penggunaan pupuk majemuk akan mendorong petani menggunakan pupuk secara lengkap. Tetapi apakah penggunaan pupuk NPK ini sudah merupakan pupuk berimbang ? Belum tentu. Semuanya tergantung tingkat status hara tanah, kebutuhan tanaman serta formula dan dosis NPK yang digunakan.
  • Sifat dan karakteristik masing-masing pupuk majemuk dapat dilihat pada tabel berikut. Ditinjau dari sisi formula pupuk, NPK Kujang mempunyai kadar N yang terlalu tinggi sehingga tidak memungkinkan penambahan pupuk Urea susulan untuk padi sawah. Untuk itu harus dilakukan penyesuaian formula untuk NPK Kujang.  NPK Pelangi dibuat dari pupuk tunggal berbentuk granul mempunyai mutu yang lebih baik karena masing-masing jenis pupuk tunggal mempunyai efek slow release dan butiran pupuknya mempunyai coating (butiran pupuk dilapisi oleh senyawa kimia tertentu) yang menyebabkan pelepasan unsur hara pupuk lebih lambat.  Untuk NPK Phonska, dosis aplikasi pupuk pada tanah sawah berstatus hara P dan K sedang dan tinggi, jumlah hara P dan K yang ditambahkan melebihi dosis anjuran.
  • Khusus untuk tanaman sereal seperti padi, jagung, kecuali pupuk NPK masih diperlukan tambahan pupuk tunggal urea karena pupuk N (dalam hal ini urea) tidak boleh diberikan sekaligus tetapi harus bertahap 2-3 kali. Pemberian urea sekaligus sangat tidak efisien, sebagian besar ≥ 40% akan hilang melalui berbagai mekanisme dalam tanah. Oleh karena itu pemupukan berimbang termasuk penggunaan pupuk majemuk NPK sangat spesifik lokasi, tergantung status hara tanah (yang ditetapkan dengan analisis tanah) serta komoditas tanaman.

Pengertian Pemupukan Berimbang

Pengertian Pemupukan Berimbang
  • Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk ke dalam tanah untuk mencapai status semua hara esensial seimbang dan optimum dalam tanah untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil pertanian, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah serta menghindari pencemaran lingkungan.  Jenis hara tanah yang sudah mencapai kadar optimum atau status tinggi, tidak perlu ditambahkan lagi, kecuali sebagai pengganti hara yang terangkut sewaktu panen.
  • Pemupukan berimbang tidak harus merupakan pemupukan dengan menggunakan semua jenis pupuk. Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk ke dalam tanah untuk mencapai status semua hara dalam tanah dan lingkungan tumbuh yang optimum bagi pertumbuhan dan hasil tanaman. Oleh karena itu hara yang sudah mencapai optimum tidak perlu ditambahkan lagi. Jadi apabila di suatu tempat tanahnya telah mempunyai status P dan K tinggi, maka yang diperlukan hanya pupuk P dan K dosis rendah setara dengan P dan K yang terangkut pada saat panen.     Sumber hara dapat berupa pupuk tunggal, pupuk majemuk atau kombinasi keduanya.
  • Penggunaan pupuk yang tidak berimbang akan menyebabkan penurunan produktivitas padi dan mutu hasil.  Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mendorong petani menggunakan pupuk secara berimbang melalui penyesuaian harga berbagai jenis pupuk.  Mengingat unsur makro yang banyak dibutuhkan tanaman adalah Nitrogen dan Posfat, maka perlu dilakukan upaya penyeimbangan dan penyesuaian kedua jenis pupuk. 
  • Penelitian dan pengembangan teknologi pupuk berimbang sudah banyak dilakukan. Hal  ini dapat dilihat dari makin spesifiknya wilayah rekomendasi pupuk berimbang. Pada awalnya rekomendasi penggunaan pupuk  berimbang dikeluarkan pada tingkat provinsi. Penelitian penggunaan pupuk berimbang semakin berkembang setelah dilingkungan Badan Litbang Pertanian dibentuk  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di semua provinsi (33 Provinsi). Rekomendasi penggunaan pupuk berimbang saat ini sudah lebih spesifik sampai di tingkat kecamatan sesuai yang tertuang dalam Kepmentan No. 01/Kpts/HK.060/01/2006.

Pengertian dasar Pemupukan dan Pemupukan Organik

Pada era pertanian modern ini, hasil panen yang besar dengan kualitas tinggi, adalah mutlak untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, di tambah lagi dengan muncul nya berbagai varietas bibit unggul yang membutuhkan unsur hara tinggi maka pemupukan mutlak di perlukan untuk memperbaharui/melengkapi unsur hara pada tanah. Sehingga usaha pertanian/perkebunan dapat terus berkelanjutan (surtainable).

Pada konsep nya pemupukan untuk pertanian dan perkebunan merupakan proses untuk menambahkan/melengkapi unsur hara esensial pada tanah/lahan agar tanah dapat menyediakan unsur-unsur hara dalam jumlah yang cukup dan berimbang untuk di serap sebagai makanan bagi tanaman. Sehingga tanah akan tetap produktif dan tanaman dapat tumbuh dengan baik dengan hasil panen yang tinggi dan bermutu.
Selama ini kita mengenal pupuk yang banyak beredar di golongkan menjadi 2 jenis, yaitu pupuk kimia/anorganik danpupuk organik. Pupuk anorganik dan organik mempunyai fungsi yang berbeda.
Pupuk anorganik/kimia/majemuk (contoh: Urea, sp36, N.P.K, KCL, dsb) berfungsi untuk memenuhi kebutuhan unsur hara makro yang di butuhkan dalam jumlah banyak dan mutlak guna meningkatkan hasil panen.
Pupuk Organik (contoh: kompos/hijau, pupuk kandang, pupuk organik cair, dsb). Berfungsi untuk memenuhi/melengkapi kebutuhan unsur hara mikro dan bahan organik yang di butuhkan tanah/tanaman dalam jumlah sedikit namun mutlak di butuhkan untuk: mengembalikan kandungan bahan organik tanah agar tetap terjaga dan optimal, melengkapi kandungan unsur hara (khususnya Mikro) yang di butuhkan tanaman, merehabilitasi kesuburan tanah, meningkatkan efektivitas proses pemupukan, meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil panen yang berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Berdasarkan dari fungsi nya, unsur hara makro dan mikro tidak bisa saling menggantikan, jadi secara ilmiah dan alami pupuk anorganik dan organik tidak bisa saling menggantikan karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Pemupukan berlebihan bukan berarti lebih baik. Secara alami setiap tanaman memiliki batas maksimum dalam menyerap unsur hara, jika ada 1 saja unsur yang di berikan secara berlebihan maka pertumbuhan dan kesehatan tanaman akan terganggu. Tanaman akan tumbuh dengan optimal jika komposisi 16 hara esensial makro dan mikro di berikan secara seimbang.
Inilah kunci keberhasilan usaha agro yang berkelanjutan (sustainable) baik dalam kualitas maupun kuantitas yaitu mengupayakan agar memberikan pupuk (unsur hara) secara lengkap dan berimbang (balanced) tidak berlebih maupun berkurang.
Pupuk majemuk/anorganik berfungsi untuk memberikan unsur hara makro dalam jumlah sesuai kebutuhan tiap tanaman sedangkan pupuk organik untuk melengkapi unsur-unsur hara esensial, terutama mikro serta merehabilitasi tanah dan tanaman.
Pupuk organik yang benar yaitu yang telah di analisa, di uji efektivitas dan bersertifikat “Organik” secara resmi dari Deptan sehingga lebih terjamin kualitas serta aman dan legal untuk di perdagangkan.
Dalam hal ini pupuk organik cair Super A1 telah teruji aman dan legal serta bersertifikasi resmi dari deptan.

PUPUK DAN PEMUPUKAN

Pupuk dan Pemupukan - Dalam budidaya pertanian, keberadaan pupuk merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang optimalisasi produksi yang telah ditetapkan. Namun, upaya memupuk yang dilakukan secara sembarangan dan tidak terukur justru dapat merugikan tanaman itu sendiri, bahkan tidak sedikit tanaman yang mengalami kematian akibat cara memupuk yang kurang tepat. Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan usaha budidaya pertanian secara intensif, diperlukan pemahaman yang benar mengenai pupuk dan cara memupuk.

MENGENAL PUPUK

Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi unsur hara untuk menggantikan unsur yang habis terserap tanaman. Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan sehingga tanaman mampu berproduksi dengan baik. Materialnya dapat berupa bahan organik ataupun anorganik. Jadi memupuk adalah menambahkan material dalam hal ini unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Berbeda dengan hormon tumbuhanatau ZPT (Zat Pengatur Tumbuh), pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sedangkan ZPT membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ZPT dapat ditambahkan ke dalamnya terutama pupuk buatan.

Pemupukan dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Agar pemberiannya tepat, perlu diperhatikan kebutuhan tanaman tersebut, sehingga tidak terlalu banyak bahan makananang diberikan karena jika terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat membahayakan tanaman.

JENIS-JENIS PUPUK

Berdasarkan kebutuhan tanaman, dikelompokkan menjadi:

Pupuk Makro

Adalah pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar, terdiri dari unsur makro primer dan sekunder. Unsur makro primer meliputi Nitrogen (N), Pospat (P), dan Kalium (K), sedangkan makro sekundernya meliputi Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Sulfur (S).

Pupuk Mikro

Adalah pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif kecil. Sekalipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit, namun mutlak diperlukan tanaman, meliputi Klor (Cl), Besi(Fe), Mangan (Ma), Tembaga (Cu), Boron (B), Molibdenum (Mo), dan Seng (Zn).

Berdasarkan asalnya, dikelompokkan menjadi:

Pupuk Organik

Adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik baik dari kotoran hewan atau manusia maupun dari sisa-sisa pelapukan tanaman.

Pupuk Anorganik

Adalah pupuk buatan pabrik yang dibuat dari bahan-bahan kimia berkadar hara tinggi. Contoh Pupuk Urea, SP36, KCl, dll.

Berdasarkan cara pemberiannya, dikelompokkan menjadi:

Pupuk Akar

Adalah pupuk yang diberikan ke dalam tanah agar terserap oleh akar tanaman, baik dalam bentuk padat maupun cair (kocoran).

Pupuk Daun

Adalah pupuk yang diberikan langsung ke tanaman melalui mulut daun (stomata) dengan cara disemprotkan.

PUPUK ORGANIK DAN PUPUK ANORGANIK

1. Pupuk Organik

Fungsi

  • Memperbaiki struktur tanah.
  • Meningkatkan daya serap tanah terhadap air.
  • Menciptakan kondisi yang baik untuk kehidupan di dalam tanah.
  • Sumber unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Jenis Pupuk Organik

Pupuk Kandang
Adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan baik padat maupun cair. Kandungan unsur hara kotoran ternak berbeda-beda karena masing-masing ternak mempunyai sifat khas tersendiri. Kandungan unsur haranya dipengaruhi oleh jenis ternak, makanan dan usia ternak.
Kompos
Adalah pupuk yang berasal dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dll. Proses pelapukan kompos dapat dipercepat melalui bantuan manusia. Pengomposan berarti merangsang perkembangan bakteri (jasad renik) untuk menguraikan bahan-bahan yang dikomposkan agar terurai menjadi senyawa lain. Dalam proses penguraian tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik sukar larut menjadi senyawa organik larut (tersedia) sehingga langsung bisa diserap tanaman. Pengomposan juga bertujuan menurunkan rasio C/N. Jika bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan dan langsung diberikan ke dalam tanah maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah, mengakibatkan CO2 dalam tanah meningkat sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan pada tanah ringan mengakibatkan daya ikat terhadap air rendah serta struktur tanahnya berserat dan kasar.
Pupuk Hijau
Adalah pupuk yang berasal dari tanaman (hijauan) meliputi bagian daun, tangkai dan batang muda tanaman tertentu yang banyak mengandung unsur Nitrogen. Tanaman yang dikategorikan pupuk hijau mempunyai bakteri rhizobium yang menempel pada akar, terutama pada tanaman famili Leguminosae. Perlu diperhatikancara aplikasinya untuk hasil yang lebih baik.
Humus
Adalah sisa tumbuhan berupa daun, akar, cabang dan batang yang sudah membusuk secara alami lewat bantuan mikroorganisme dan cuaca. Sifat humus tidak berbeda dari kompos yaitu mudah mengikat air dan gembur, sedangkan ciri khasnya berwarna hitam sampai coklat tua. Salah satu cara menambahkan humus ke dalam tanah adalah dengan membenamkan tanaman hijauan ke dalam tanah sehingga akan terjadi pembusukan yang membentuk humus.
Pupuk Mikroba
Adalah pupuk yang memanfaatkan inokulum-inokulum mikroba yang menguntungkan untuk sebagai dekomposer untuk mengurai bahan-bahan organik di dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, serta melepaskan ikatan senyawa unsur hara penting bagi tanaman menjadi tersedia. Adanya peran serta mikroba menguntungkan ini menjadikan unsur tersedia dapat langsung diserap oleh akar tanaman. Ada beberapa jenis berdasarkan fungsinya, yaitu miktoba penambat N (nitrogen), Pelarut P (Phosphat), dan mikroba selulotik (kombinasi penambat N dan pelarut P).

2. Pupuk Anorganik

Keuntungan pemupukan anorganik :
  • Pemberiannya terukur, karena komposisi haranya tepat.
  • Pemberiannya sedikit karena kandungan haranya tinggi sehingga dapat menekan biaya pengangkutan.

Jenis Pupuk Anorganik

Tunggal
Adalah pupuk yang kandungan haranya hanya satu hara utama. Misal Urea mengandung unsur N (Nitrogen), SP36 mengandung unsur P (Pospat) dan KCl yang mengandung unsur K (Kalium).
Majemuk
Adalah pupuk yang kandungan hara utamanya lebih dari satu unsur. Misal ZA mengandung unsur N (Nitrogen) dan S (Sulfur), pupuk NPK mengandung unsur N (Nitrogen), P(Pospat) dan K (Kalium), DAP (Diamonium-phospat) mengandung unsur N (Nitrogen) dan P (Pospat). KNO3 mengandung unsur K (Kalium) dan N (Nitrogen), MKP (Mono Kalium Phospat) mengandung unsur P (pospat) dan K (Kalium).

CARA MEMUPUK

Cara memupuk sangat tergantung pada jenis tanaman dan kebiasaan teknik budidaya yang diterapkan karena kita tidak bisa mengetahui kebutuhan tanaman secara tepat dan kandungan unsur hara tersedia dalam tanah. Semua hanya berdasarkan pengamatan fisik, kecuali jika kita menganalisa kandungan hara tanah ke laboratorium.

Ditabur atau disebar

Diterapkan untuk jenis butiran (granule) atau serbuk. Memupuk cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya rapat atau tidak teratur dan pada tanaman yang sistem perakarannya dangkal seperti tanaman padi.

Larikan

Bikin larikan untuk memupuk, masukkan ke dalam larikan kemudian tutup lagi dengan tanah agar tidak mudah menguap. Memupuk cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya lebar dan teratur seperti jagung, kacang tanah, dll.

Dimasukkan ke lubang tanam

Digunakan untuk tanaman tahunan yang sebelumnya diawali dengan pembuatan lubang tanam. Masukkan ke dalam lubang kemudian tutup lagi dengan tanah.

Pengocoran

Diterapkan jenis cair atau padat yang pemberiannya dilarutkan dulu dalam air. Keuntungan memupuk cara ini adalah pemupukan langsung diserap oleh akar tanaman yang kemudian diolah oleh daun.

http://www.tanijogonegoro.com/2012/12/pemupukan.html

Pemupukan Tanaman

Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik langsung maupun tak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman.

Tanaman diberikan pemupukan, jika :
  1. Tanah miskin hara
  2. Pertumbuhan tanaman terhambat walaupun sudah dilakukan penyiangan dan ditemukan gejala kekurangan unsur hara.
  3. Pertumbuhan tanaman perlu dipercepat untuk mengurangi resiko akibat persaingan dengan gulma.
  4. Ingin meningkatkan hasil pertambahan pertumbuhan (riap volume) per satuan luas pada akhir daur.
Jenis pupuk yang biasanya digunakan adalah pupuk yang mengandung unsur hara primer (N, P, K). Namun mungkin saja tanaman juga kekurangan unsur hara lain. Oleh karena ada 3 cara untuk mengetahui tanaman kekurangan unsur hara (deficiency) apa saja, yaitu :
  1. Mengamati gejala-gejala yang muncul dalam pertumbuhan tanaman, apakah normal atau tidak.
  2. Analisis tanah di laboratorium dengan mengambil sample tanah di lapangan
  3. Analisis jaringan tanaman di laboratorium dengan mengambil sample daun tanaman.
Pemupukan dilakukan menjelang atau awal musim hujan. Kalau diperlukan pupuk tambahan pada tahun yang sama, maka dilakukan menjelang akhir musim hujan. Sebelum pemupukan dilakukan, sebaiknya pH tanah diketahui. Jika pH tanah asam, maka perlu diberi kapur kaptan (CaCO3) agar pH tanah naik sehingga pemupukan memberikan respon yang baik pertumbuhan tanaman.
Pada saat tanaman berumur 1-3 bulan, umumnya pemupukan dilakukan. Jika tingkat kesuburan tanah yang diolah makin jelek, maka pemupukan dilakukan lebih awal. Setelah itu diulangi pada umur 6-24 bulan sampai tinggi tanaman melampaui tinggi gulma. Jika perlu dilakukan pemupukan untuk meningkatkan riap volume, maka pemupukan berikutnya diberikan menjelang penjarangan pertama (saat tajuk bersinggungan) untuk pohon yang terpilih (tidak dijarangkan). Kemudian pemupukan berikutnya menjelang penjarangan kedua dan seterusnya sampai batas 5 tahun sebelum ditebang.

Kamis, 21 Mei 2015

Pemupukan Buah Mangga

Tanaman mangga memerlukan nutrisi yang cukup agar dapat mendukung proses pembungaan dan menghasilkan buah yang lebat.
apk
Namun  dalam proses pemupukan sering terjadi kesalahan sehingga hasil pemupukan tidak maksimal. Berikut ini cara memupuk buah mangga yang baik:
  1. Buat bedengan mengelilingi tanaman. Pemupukan dengan hanya menaburkan pupuk di sekitar tanaman tanpa dibuatkan bedengan membuat pupuk yang larut pada saat dilakukan penyiraman arah alirannya tidak teratur dan belum tentu mengarah ke akar tanaman, terkadang hanya melalui permukaan tanah.
  2. Perhatikan jangkauan serapan akar. Posisi terbaik peletakan pupuk adalah pada diameter luar batang tanaman yang terdapat daun, karena posisi tersebut merupakan wilayah perakaran tanaman terbaik yang melakukan penyerapan nutrisi.
  3. Gunakan pupuk yang mengandung Nitrogen (N) dan Phosfor yang cukup. Nitrogen (N) bermanfaat untuk merangsang pembungaan dan Phosfor digunakan untuk memperkuat calon buah agar tidak rontok. Pemupukan dengan jenis pupuk yang tidak mengandung dua unsur tersebut maka hasilnya tidak akan baik dan tanaman akan sulit berbunga.
  4. Lakukan penyiraman berkala dengan baik. Penyiraman merupakan syarat dasar agar tanaman dapat tumbuh dan berbuah. Penyiraman yang baik yaitu dengan memperhatikan kadar keasaman air yang digunakan dan juga tingkat kelembaban tanah yang akan disiram. Jika kondisi tanah sudah basah sebaiknya penyiraman tidak dilakukan agar tidak terjadi pembusukan akar tanaman. (tipspetani)